Cara-Cara Supaya Kamu Bisa S-2 Tanpa Harus Terjegal Biaya (Motivasi Sukses Bersama)
Sayang, banyaknya kesempatan ini tidak selalu dibarengi oleh
kemampuan finansial pribadi. Biaya pendidikan magister memang rata-rata
lebih tinggi dibandingkan S-1; selisih biaya antara keduanya akan makin
terasa jika kamu S-1 di universitas negeri.
Tapi masih ingatkah kamu dengan kegigihanmu selama S-1? Masih adakah
mental baja itu? Kalau jawabannya masih, terapkan saja semangat yang
sama untuk meraih gelar S-2. Pelajari strategi di bawah ini untuk
memperoleh, menabung, dan mengelola uang demi gelar S-2 yang kamu
idam-idamkan itu. Sudah siap?
1. Sebelum menabung, pastikan dulu kapan kamu ingin memulai kuliah S-2
Karena pendidikan gak kenal usia, kamu bisa melanjutkan kuliah S-2
kapan saja. Namun fleksibilitas inilah yang sering menjebak kamu untuk
menunda-nunda mengambil program magister. “Nanti-nanti aja, deh…” Nanti kapan? Nanti tahu-tahu kamu menikah, punya anak, harus bekerja, dan lebih susah lagi untuk mengambil gelar S-2.
Makanya, kalau udah ada niat mau melanjutkan S-2, tentukan kapan
tepatnya. Apakah tahun depan? Tahun depannya lagi? Atau tiga tahun dari
sekarang?
Dengan ini, kamu akan bisa memperkirakan jumlah uang yang harus kamu
kumpulkan per tahunnya. Sebagai gambaran: biaya rata-rata program
magister di Sekolah Pascasarjana UGM adalah Rp. 30.000.000. Jika kamu berencana mengambil S-2 tiga tahun lagi, berarti kamu harus menabung Rp. 10 juta per tahunnya.
2. Minat studi dan lokasi kampus adalah dua hal yang memerlukan pertimbangan matang
Dalam memilih tempat di mana kamu akan mengambil program magister
kamu harus memperhatikan kebutuhan dan minat studi yang kamu miliki.
Hayo, bagi kamu yang jurusan kuliah S-1 dulu masih dipilihkan orang tua,
inilah kesempatan bagimu untuk benar-benar mendalami bidang yang kamu
cintai. Tapi kamu juga bisa memperdalam ilmumu dengan mengambil S-2 di
bidang yang sama. Buktikan kalau gak ada yang namanya salah jurusan —
yang ada hanyalah telat menyadari kalau kamu bisa jago di bidang apapun.
Setelah mengerucutkan pilihan minat studimu, sekarang kamu harus
memikirkan di kampus mana studi tersebut akan kamu dalami. Lokasi kampus
sangat penting sebagai bahan pertimbanganmu. Jika kamu kuliah di kota
yang sama dengan tempatmu sekarang hidup, kamu mungkin masih bisa kuliah
sambil bekerja. Sementara kalau kampusmu di luar kota, kemungkinan
besar kamu harus merelakan pekerjaanmu. Hitunglah berapa biaya hidup
yang kamu perlukan untuk 1,5-2 tahun menempuh S-2. Pastikan kamu
juga mengumpulkan uang untuk biaya hidupmu ini.
3. Mulai disiplinkan diri untuk menabung. Ingat, kuliah S-2 itu investasi.
Program magister bisa kita sebut sebagai investasi jangka menengah,
karena gelar yang nanti kamu sandang diharapkan bisa membantumu meraih
pekerjaan yang lebih baik. Menabung demi pendidikan sama saja seperti
mengalokasikan anggaran kebutuhan per bulan. Kamu tinggal memisahkan
sejumlah uang untuk ditabung, lalu jangan sentuh tabungan tersebut
hingga dananya cukup untuk kuliah S-2. Kalau sampai sekarang kamu belum
bisa menabung, berusahalah lebih keras dengan mencoba berbagai siasat menabung ini.
4. Banyak universitas yang memberlakukan potongan biaya S-2 untuk alumninya. Cari tahu apa kampusmu menawarkan hal yang sama.
Waktunya kembali ke kampus lama, tempat di mana kamu meraih gelar
sarjana. Cari informasi apakah fakultas/jurusan kamu membuka program
magister atau nggak. Jika ada, tanyakan apakah ada pemberian harga
khusus (baca: diskon) bagi alumni seperti kamu. Demi menarik peminat,
banyak kampus yang menyelenggarakan pendidikan S-2 akan memberlakukan
potongan harga khusus bagi alumninya. Jika kampusmu menawarkan hal itu,
kenapa tak kamu manfaatkan saja?
5. Jika kamu berprestasi dan bisa mengunci beberapa surat rekomendasi, jangan ragu untuk apply beasiswa S-2
Jika kamu memiliki posisi tawar yang tinggi dan punya potensi,
manfaatkan itu untuk mendaftar berbagai program beasiswa yang ada.
Selain program beasiswa dari kampusmu, kamu harus mengecek program beasiswa DIKTI (khusus untuk tenaga pengajar universitas), beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan, dan program khusus Presidential Scholarship.
Mau mencoba kuliah S-2 di luar negeri? Manfaatkan bantuan program Erasmus Mundus dari Uni Eropa, Chevening dari Pemerintah Britania, Fulbright dari Amerika, Australia Awards, Studeren in Netherland (StuNed), Korean Government Scholarship Programme, hingga Monbukagakusho.
Triknya: selain prestasi akademik dan potensi pribadi kamu harus
punya komitmen kuat dan rencana yang nyata untuk membangun Indonesia.
Kamu bisa membuktikannya dengan sejarah kerjamu, aktivitas
ekstrakulikulermu, dan surat rekomendasi dari dosen atau mantan bosmu.
Kefasihan berbahasa di tempatmu ingin melanjutkan studi juga sangat
menentukan, lho. Lebih lengkapnya, Hipwee pernah menulis kiat supaya kamu bisa mendapat beasiswa ke luar negeri di sini.
6. Hindari biaya yang mahal dengan mendaftar program pascasarjana lebih awal
Sudah menjadi semacam ‘hukum tak tertulis’ bagi kampus-kampus swasta
untuk menjaring sebanyak-banyak calon mahasiswa dengan menerapkan sistem
pendaftaran bergelombang. Gelombang I biasanya lebih murah daripada
Gelombang II, begitu pula seterusnya. Jika syarat dan ketentuan semacam
ini berlaku, kenapa gak dimanfaatkan aja? Hemat beberapa juta ‘kan
lumayan.
7. Beasiswa bukan satu-satunya jalan untuk S-2 gratis. Research dan teaching assistantship juga bisa meringankan biaya pendidikanmu.
Namun beasiswa bukan satu-satunya jalan masuk untuk mengenyam program
magister secara cuma-cuma. Kamu bisa memperoleh jalan masuk dengan
ikutan teaching assistantship atau research assistanship di mana tenagamu sebagai asisten dosen atau asisten penelitian akan dibayar dalam bentuk pendidikan magister.
Program assistantship seperti ini umum ditemui di luar
negeri, namun juga ada di Indonesia. Cek apakah kampus incaranmu
menyediakan program seperti ini. Jangan lupa, kemampuan akademikmu harus
cemerlang, ya. Untuk membuat CV-mu makin bersinar, carilah kesempatan
mempublikasi paper di jurnal khusus S-1 (yang persaingannya
tidak seketat jurnal yang lebih prestisius) atau opini lepas di
koran-koran dan media online.
8. Banyak juga mahasiswa S-2 yang biaya kuliahnya dibantu kantor tempatnya bekerja. Apakah kantormu mau mendukungmu seperti itu?
Terakhir, kamu juga bisa mengajukan biaya bantuan pendidikan kepada
kantor tempatmu bekerja. Cari tahu dulu apakah perusahaanmu punya
tradisi untuk membiayai staf-stafnya kuliah S-2. Cari tahu juga, apakah
S-2 yang ditawarkan kantormu itu harus ditempuh di
universitas-universitas tertentu, atau apakah kantormu juga punya cukup
daya untuk membiayai stafnya kuliah di luar negeri.
Konsultasikan rencanamu ini dengan bosmu dan siapkan proposal
penelitian yang sesuai. Jangan lupa, kantormu harus tahu apa manfaatnya
untuk mereka dengan menyekolahkan kamu S-2. Jadi, pastikan bahwa minat
studi dan penelitian akademik yang kamu pilih akan bisa membuat kantormu
lebih berkembang, bisa dari kuantitas penjualan atau kualitas produk
dan jasa yang kalian tawarkan.
Kuliah S-2 memang mahal, tapi belum tentu mustahil dilakukan. Tanpa
merepotkan orangtua, kamu bisa kok mendapatkan gelar tambahan di
belakang gelar yang sudah kamu punya sekarang!
Cara-Cara Supaya Kamu Bisa S-2 Tanpa Harus Terjegal Biaya (Motivasi Sukses Bersama)

0 komentar